Berburu Keteladanan

Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji hanya milik Allah SWT atas semua nikmatNya baik yang muthlak maupun yang muqayyad. Yang muthlak adalah semua nikmat Allah yang diberikan kepada para nabi, shiddiqin, shalihin dan kita sebagai kaum mukminin karena telah menggunakan waktu kita dengan memenuhi kewajiban berta’abbud kepada-Nya semata. Yang muqayyad adalah nikmat yang mampir sebentar bagi manusia, tak ada beda antara yang beriman kepada Allah ataupun tidak beriman, semua sama mendapat nikmat muqayyad ini. Perbedaannya adalah diantara mereka ada yang mempergunakan nikmat muqayyad ini untuk berbuat baik kepada sesama tapi ada pula yang semakin menjauh dari kebaikan karena lupa amanat Tuhan dan pertanggungjawabannya di hari yang abadi akhirat kelak.. Bahagia rasanya ketika saya sempat meluangkan waktu untuk menulis risalah ini. Walillahil hamd.

Kepada setiap pelajar yang memiliki keinginan dan bercita-cita menjadi orang yang menaati Tuhannya dan berharap akan keberuntungan surgaNya.

Kepada setiap pelajar yan menginginkan keridhoan kedua orang tuanya.

Kepada setiap pelajar yang selalu berusaha untuk mendapatkan penghormatan orang lain.

Kepada setiap pelajar yang selalu berusah untuk menjadi baik dan berakhlak.

Anakku ……, saya ingin bertanya kepada engkau. Pernahkah engkau bertanya pada diri sendiri, mengapa engkau belajar ? untuk siapa engkau belajar ? demi apa engkau belajar ?

Dalam memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut para pelajar juga ternyata memiliki jawaban beraneka ragam sesuai dengan versi mereka sendiri. Diantara mereka ada yang menjawab “ Saya belajar untuk memperoleh harta”. “ Saya belajar karena saya ingin tidak ada seorang pun yang melebihi diriku”. “ Saya belajar karena orang-orang besar adalah mereka yang terus menerus belajar sampai bertahun-tahun”. “Saya belajar karena orang tuaku menginginkan aku berbuat demikian ( belajar ). Ekstrimnya lagi, ternyata ada juga pelajar yang menjawab, “ Saya belajar hanya untuk menghabiskan waktuku, habisnya mau ngapain, apa lagi yang bisa saya kerjakan lha wong harta orang tuaku sudah melimpah, cukuplah dengan warisan mereka pun aku bisa hidup nanti “.). Ada pula yang cuek dengan memberikan jawabannya aku tidak tahu. Nastaghfirullahal ‘azhiem wa na’udzu billahi min dzalik.

Anakku , ……………….. Ketahuilah ! Sesungguhnya tujuan yang agung, niat yang lurus lagi ikhlas karena Allah dan tingginya semangat untuk membela agama ini melalui jalan ilmu ini adalah sesuatu yang sangat mulia lagi dipuji dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika engkau tidak sanggup untuk menumbuhkan perkara diatas, paling tidak tanamkanlah dalam jiwamu bahwa engkau belajar agar ilmu yang engkau peroleh bisa bermanfaat untuk dirimu, keluagamu, lingkunganmu dan ummat Islam. Jika engkau masih merasa belum sanggup juga dengan hal tersebut niatkanlah bahwa engkau menuntut ilmu ini karena engkau ingin mentaati Allah, karena Dia-lah yang memerintahkan hambaNya untuk berilmu dan belajar. Dia-lah yang mewajibkan hambaNya agar beribadah diatas ilmu dan bashirah, bukan berdasarkan hawa nafsu dan ketidaktahuan.

Anakku, …. Jika engkau masih keberatan juga dengan perkara-perkara diatas maka nasehatku untukmu yang terakhir, hendaklah engkau niatkan dalam dirimu bahwa belajar engkau ini lakukan agar Allah meridhoi keadaan dirimu, jalanilah tugas belajar engkau ini karena keinginanmu menaati kedua orang tuamu. Inilah nasehatku yang terakhir dan saya yakin engkau pasti mampu melakukannya.

Anakku ,…… mari kita cermati kembali kepada inti pertanyaan diatas dan jawaban-jawabannya. Jika sudah engkau pahami, sekarang engkau bandingkan perbedaan antara jawaban yang beraneka ragam itu dan jawaban-jawaban alternatif yang saya tunjukkan. Manakah yang lebih mulia dihadapan Tuhanmu ? Engkau sudah tahu jawabannya. Oleh karena itu, janganlah engkau jadikan dunia ini sebesar-besar tujuan hidupmu, janganlah engkau penuhi rongga dadamu dengan tujuan hasil dunia yang fana itu. Tetapi ,….. jadikanlah tujuanmu, motifasimu dalam belajar engkau itu sebagai jalan thalabul ilmi yang diperintahkan Allah, ladang ibadah engkau kepadaNya, jalan jihadmu fi sabilillah dan yang paling utama sebagai wasilah untuk meraih surgaNya. Anakku,…… ingatlah nabimu r pernah berpesan : “ Seseorang yang mau meniti jalan ilmu , Allah akan mudahkan orang itu titiannya menuju surga Allah “ (HR. Muslim). Dalam hadits beliau r yang lain : “ seseorang yang belajar suatu ilmu yang seharusnya ilmu itu dipelajari dengan ikhlas karena Allah, tetapi orang itu mempelajarinya karena menginginkan sepotong dari dunia ini, niscaya orang itu tidak mendapatkan wanginya bau surga pada hari kiamat “ ( HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah al Hadist Ash shahihah )

Anakku,…. Engkau tahu orang yang telah mengatakan kata-kata penuh hikmah diatas. Beliau adalah Rasulullah r, seorang manusia pilihan Allah I, ucapannya tidak pernah muncul dari hawa nafsunya, semua ucapannya adalah wahyu, lisan beliau selalu mengeluarkan fakta kebenaran. Apakah engkau masih ragu ? sadarilah akan kekeliruan engkau selama ini. Berniatlah mulai dari sekarang, engkau ikhlaskan belajar engkau demi Allah, untuk Allah dan karena Allah engkau tempuh jalan ilmu ini.

Anakku, …. jika engkau telah membiasakan diri engkau dengan akhlak mulia ini di setiap aktifitas engkau belajar, sungguh engkau telah mengantongi satu sifat pelajar teladan. Dan sifat-sifat teladan berikutnya akan mudah untuk engkau meraihnya.

Anakku, …. Ketahuilah ! Tatkala sikap ikhlas sudah engkau jadikan perhiasan dalam aktifitas belajar engkau ini, nikmatilah rasa taqwa sebagai buahnya. Buah dari ketundukan yang sempurna akan aturan Tuhan dalam beramal. Buah dari sikap selalu merasa diawasi dan dicatat amal perbuatannya.

Anakku,.. rasa taqwa itu muncul karena engkau takut kalau engkau berpaling dari niat yang wajib engkau tujukan kepada Allah I lalu engkau berikan kepada selainNya. Rasa taqwa itu engkau akan dapatkan saat engkau takut bahwa Allah I selalu tahu dan Maha Tahu mendapatimu dalam keadaan durhaka padaNya. Rasa taqwa itu selalu engkau munculkan dimanapun engkau berada.

Anakku,…. Sekarang kita hidup pada zaman semua serba teknologi, fasilitas serba canggih. Fitnah pun bermunculan, bahkan terkadang nongol dengan tumpang tindih. Fitnah yang satu belum usia, finah lainnya muncul. Inilah fitnah.

Anakku, …. Fitnah itu berpangkal pada dua hal fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Fitnah syubhat saat engkau diterpa berbagai keyakinan, paham atau yang dikenal dengan isme-isme bertubi-tubi menyerang akal pikiranmu. Yang mana itu membikin engkau bingung, tidak tahu arah untuk menentukan kebenaran. Fitnah syahawat saat engkau diterpa angin budaya barat yang serba boleh, tak peduli halal haram, bahkan agama hilang dari peredaran. Sangat tepat kiranya ketika engkau hiasi hari-hari engkau dalam menghadapi dua fitnah ganas ini dengan sikap ikhlas dan rasa taqwa kepada Allah I. Sikap ikhlas akan mengarahkanmu untuk selalu merasa berkewajiban menghamba kepada Allah, rasa taqwa akan mengontrol engkau saat engkau hendak berbelok tak sesuai tujuan hidup sebenarnya. Sungguh benar apa yang dipesankan oleh baginda Rasulullah r. Kata beliau : “ Taqwalah engkau dimana engkau berada, iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan”. ( HR. Tirmidzi)

Anakku,… itulah bekal sifat kedua bagi engkau yang harus engkau pegangi dan kantongi jika engkau menginginkan kebaikan akan predikat sebagai pelajar teladan. Anakku sebetulnya banyak sekali sifat pelajar teladan yang ingin aku sampaikan kepada engkau. Akan tetapi, aku merasa dua sifat utama diatas sudah mewakili bahasan sifat –sifat teladan berikutnya yang akan engkau raih saat engkau mampu ntuk istiqamah menjaga dan meningkatkan terus keikhlasan dan ketaqwaan engka kepada Allah, karena Allah telah mengatakan, “ dan bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan ilmu kepada kalian “ . Akhir dari persembahanku ini, aku sampaikan sebuah nasehat yang memikat dari Sahabat Ali bin Abi Thalib t kepada Kamil bin Ziyadah an Nakha’I t : “ Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu itu akan menjaga engkau sedang engkau akan menjaga harta, ilmu itu akan semakin bertambah saat engkau gunakan, sedang harta akan berkurang saat engkau gunakan, ilmu itu akan meluruskan engkau sedang harta akan menyimpangkan engkau, mencintai ilmu adalah perbendaharaan yang tak pernah habis sedang mencintai harta niscaya akan habis ditinggal mati, ilmu itu membantu pemiliknya untuk taat pada Allah saat masih hidup dan sebaik-baik peninggalan setelah meninggal dunia, sedang menumpuk harta pasti akan hilang saat pemiliknya juga meninggal”. Wallahu a’lam. * Diterjemahkan secara bebas dari risalah kecil ” Shifatu Thulabil Mitsliyi ma’a dzikri ba’dhil mukhalafatillati yaqa’u fiha katsirun minath thullab ” Departemen Ilmiyah, Darul Wathan, KSA, 1423 H

Iklan

About admin_blog

Blog Pribadi

Posted on 12 Januari 2012, in KEPENDIDIKAN and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. hebat, …..pak sudah lebih baik dari sebelumnya ! barakallohu fikum

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: