Monthly Archives: Mei 2013

INDAHNYA ISLAM

Sebagai seorang muslim tentunya kita harus bangga dan yakin akan kemuliaan-kemuliaan yang diberikan Allah SWT. Tentunya akan lebih bermakna lagi keyakinan kita akan kemuliaan Islam jika kita semakin mengenal keindahan-keindahan yang ada didalamnya.Membicarakan tema tentang keindahan Islam itu sangat luas, panjang lebar lagi sulit untuk diringkas dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita ketahui adalah firman Allah.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)

Juga firman-Nya ;

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلاَمِ دِيْنًا  فَلَنْ   يُّقْبَلَ   مِنْهُ

“Barang siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima.” (Qs. Ali Imran: 85)

Islam adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang dibawa Nabi merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima agama selainnya. Jadi agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan diridhaiNya. Allah berfirman yang artinya,  “Allah memilih orang yang dikehendaki-Nya kepada agama Islam dan memberi petunjuk bagi orang yang kembali (kepada)-Nya” (Qs. Asy-Syura: 42). Demikianlah, bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam. Dalam Shahihain, dari sahabat nabi bernama Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan tidak beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim). Karena itu, agama yang diterima Allah adalah hanyalah Islam. Umat Islam harus menjadikannya sebagai keyakinan untuk mencapai surga Alloh.. Persatuan harus bertumpu pada tauhid dan syahadatain. Islam agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri. Allah menjamin penjagaan terhadapnya. Allah berfirman,yang artinya “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9).

Read the rest of this entry

Iklan

Belajar Tumakninah

Seandainya masing-masing kita memperhatikan praktek shalat kaum Muslimin, niscaya kita dapati bahwasanya mereka semua menunaikan sebagian besar rukun-rukun shalat yang diminta, seperti takbiratul ihram, berdiri, ruku’, sujud dan lain-lain. Akan tetapi pada waktu yang bersamaan kita dapati banyak dari kaum Muslimin yang tidak menunaikan salah satu rukun yang penting, yang mana shalat seseorang tidak akan sah kecuali dengan menunaikan rukun tersebut, dan rukun tersebut adalah rukun thuma’ninah (ithmi’naan). Padahal rukun ini menyertai kebanyakan rukun-rukun shalat yang lain, maksudnya adalah bahwa harus ada thuma’ninah ketika berdiri dalam shalat, ketika ruku’, sujud dan ketika duduk di antara dua sujud.

Dan yang dimaksud dengan thuma’ninah (ithmi’naan) dalam shalat adalah berdiam diri (tenang) seukuran waktu untuk membaca bacaan shalat yang wajib. Maka seseorang tidak dikatakan thuma’ninah kecuali jika ia tenang dalam ruku’ seukuran waktu sempurna untuk mengucapkan doa bacaan ruku ‘dalam shalat satu kali (dengan bacaan normal, tidak cepat), dan dalam I’tidal (berdiri setelah ruku’) seukuran waktu sempurna untuk mengucapkan doa bacaan I’tidal dalam shalat  dan dalam sujud seukuran waktu sempurna untuk mengucapkan doa bacaan sujud dalam shalat , serta dalam duduk di antara dua sujud seukuran waktu sempurna  untuk membaca doa bacaan duduk diantara dua sujud dan seterusnya.

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata ; “ Batasan Tumakninah adalah tenang dan mapannya anggota-anggota badan yang digunakan untuk melakukan rukun tersebut.”

Dan dalam Shahih disebutkan sebuah hadits dari Shahabat Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu tentang sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “…Maka jika beliau mengangkat kepalanya, beliau berdiri tegak hingga masing-masing ruas tulang belakang kembali ke tempatnya.”  Dan dalam Shahih Muslim disebutkan dari hadits ‘Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha ,  “…Maka, apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau tidak sujud sebelum berdiri tegak lurus (I’tidal).”

Maka hadits-hadits ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa thuma’ninah adalah mapan dan tenang pada posisi-posisi shalat dan tidak tergesa-gesa ketika berpindah dari satu rukun ke rukun berikutnya, akan tetapi justru diam sebentar hingga masing-masing tulang dan persendian kembali ke posisinya. Dan dalil tentang rukun thu’maninah adalah hadits yang ada dalam Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: ” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk kemudian ia shalat. Kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya dan bersabda:“ Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat (dengan shalat yang sah)!” Lalu orang itu kembali dan mengulangi shalat seperti semula. Kemudian ia datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil memberi salam kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:” Wa’alaikas Salaam” Kemudian beliau bersabda:“ Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!” Sehingga ia mengulang sampai tiga kali. Maka laki-laki itu berkata:“ Demi Dzat yang mengutus anda dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari shalat seperti ini, maka ajarilah aku.” Beliau pun bersabda:“Jika kamu berdiri untuk shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian ruku’-lah hingga benar-benar thuma’ninah (tenang/mapan) dalam ruku’, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak (lurus), kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga thuma’ninah dalam keadaan dudukmu. Kemudian lakukanlah semua itu di seluruh shalat (rakaat) mu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka dari hadits yang mulia ini, adalah dasar hukum (landasan) dalam bab thuma’ninah dalam shalat. Dan nampak jelas bagi kita bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memerintahkan lelaki ini untuk mengulangi shalatnya karena ia tidak thuma’nianh menunjukkan bahwa thuma’niah merupakan rukun, yang mana tidak sah shalat seseorang kecuali dengannya.

Shahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu melihat seorang laki-laki yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Maka beliau radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya:” Kamu belum shalat, dan kalau engkau mati sungguh engkau mati tidak di atas fitrah Allah yang di atasnya Dia menetapkan fitrah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. al-Bukhari) . Dan di dalam riwayat imam an-Nasa’i:” Sejak kapan engkau shalat seperti ini?” Orang itu menjawab:”Sejak empat puluh tahun lalu.” Beliau (Hudzaifah) berkata:” Engkau belumlah shalat (dengan sah) selama empat puluh tahun.”  Dahulu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu jika mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau berdiri (I’tidal) sampai-sampai ada yang berkata:”Ia (Anas) lupa” dan ketika duduk di antara dua sujud sampai-sampai ada yang mengatakan:”Ia (Anas) lupa” (dalam kitab Shahih al-Bukhari) . Ucapan “Dia lupa” ini menunjukkan bahwa saking lamanya beliau berdiri (I’tidal) dan duduk di antara dua sujud menjadikan orang-orang mengira kalau beliau lupa dalam shalatnya. Wallahu a’lam.

Imam Syafi’i, Ahmad dan Ishaq rahimahumullah berkata:“Barang siapa yang tidak menegakkan (meluruskan) tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud, maka shalatnya rusak/batal, berdasarkan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: ” Tidak mencukupi (tidak sah) suatu shalat, yang mana pelakunya tidak meluruskan tulang belakangnya pada ruku’ dan sujudnya di shalat tersebut.”

Demikianlah dari saya semoga kita bias melaksanakan shalat diwaktu mendatang dengan lebih tumakninah lagi. Terima kasih.